Tugas Bahasa Indonesia

MAKALAH TENTANG MASALAH BANJIR
DI PULAU JAWA

TUGAS SOFTSKILL
BAHASA INDONESIA
Nama : Martha Kristiani K.
NPM : 20208776
Dosen : Bapak Sangsang

FAKULTAS EKONOMI
2010

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pulau Jawa merupakan pulau yang penduduknya padat. Peningkatan jumlah penduduk yang terus bertambah dalam waktu relatif singkat, yang mengakibatakan timbulnya permasalahan sebagai dampak peningkatan jumlah penduduk tersebut. Salah satu permasalahn yang selalu timbul sejak tahun adalah banjir, baik banjir kiriman maupun lokal. Frekuensi banjir di Pulau Jawa sudah semakin meningkat, salah stu penyebab utamanya adalah minimnya ketersediaan prasarana saluran – saluran drainase dan banyak juga factor – factor yang menyebabkan banjir dan berbagai cara telah ditempuk untuk menangani masalah ini, anatara lain pembuatan tampungan daerah lain, daerah hijau untuk resap[an air. Factor tersbesar yang menimbulkan banjir adalah cuaca buruk yang mengakibatkan curah hujan yang sangai tinggi dan tindakan masyarakat yang tidak memperdulikan lingkung disekitarnya. Dan pintu – pintu air yang terdapat pada sungai hanya menjadi sebuah resistan pasif yang hanya dapat memindahkan overload dari sungai ke tempat lain. Untuk itu dalam mensiasati pengoptimalan fungsi dari sebuah pintu air diperlukan sebuah pengendali cerdas yang cukup optimal dan memiliki tanggapan waktu yang cukup baik
Untuk kendali pintu air yang ada sekarang umumnya masih menggunakan kendali manual yang konvensional yang dikontrol oleh pengawas.kendali manual memiliki beberapa kelemahan karena faktor kerjanya sanagt tergantung pada kondisi fisik maupun mental – psikologis operator sehingga memungkinkan terjadinya kesalahan yang besar. Dengan majunya perkembangan zaman dan teknologi, orang akan berusaha memperbaiki kondisi yang ada dengan merubah kendali manual menjadi otomatis. Dengan adanya teknologi automasi ini diharapkan kekurangan – kekurangan kontrol konvensional dapat diatasi.

1

2
1.2 . IDENTIFIKASI MASALAH
Banyak faktor yang bisa menjadi penyebab banjir, misalnya, curah hujan yang tinggi, kapasitas alur sungai yang tidak mencukupi, adanya endapan sedimen (delta) di muara sungai, atau karena daerah banjir yang memeng merupakan daerah dataran rendah, dan lain-lain. Untuk mengatasi permasalahan banjir yang sesungguhnya perlu diketahui secara pasti faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya banjir. Dengan demikian, upaya pengendalian banjir pada suatu wilayah bisa berbeda dengan wilayah yang lain. Beberapa penyebab utama terjadinya banjir antara lain adalah:
1. Pedangkalan/Agradasi Dasar Sungai (Sedimentasi)
Hampir semua sungai di Jawa membawa sedimen dalam jumlah yang banyak dari huluya dan mengikis lahan di DAS-nya sampai ke muara. Di pasir dan material-material yang lain, sehingga kapasitas tampungan sungainya menjadi berkurang. Di penambangan pasir di sungai-sungai besar sehingga di beerapa tempat degradasi dasar sungai banyak di jumpai. Namun di sisi lain, permasalahan sedimentasi juga banyak terjadi, terutama pada sungai-sungai di bagian hilir.
2. Meluapnya aliran sungai melalui tanggul
Di daerah pantai/mara, meluapnya air sungai dari tanggul yang ada sering terjadi selama musim peghujan. Meluapnya aliaran sungai ini mengakibatkan tergenanginya daerah-daerah yang relatif datar dan lahan-lahan pertanian di sekitarnya. Tanggul-tanggul yang telah diangun di sebagian besar sungai tidak cukup tinggi untuk menampung debit air yang terjadi. Selain itu kondisi tanggul yang buruk karena tidak memadainya pemeliharaantanggul yang dilakukan. Tanggul-tanggul sungai di hulu memang dapat mengurangi banjir0banjir yanag terjadi di daerah hulu, akan tetapi, di sisi lain justru dapat menyebabkan bertambah luasnya area yangterkena banjir di daerah hilir.

3
3. Kondisi saluran drainase yang kurang baik baik
Beberapa permasalahan yang menjadi penyebab drainase yang tidak lancar sebagai berikut:
• Tidak berfungsinya pitu-pintu air sebagaimana mestinya,
• Kapasitas tampungan yang tidak memadai dari saluran drainase dan sungai-sungai. Beberapa dari sungai-sungai digunakan untuk lahan pertanian,
• Lahan pertanian produktif selalu berada di depresion area di titik terendah dari dataran pantai (tidak terlalu jauh dari pantai), lokasi ini umumnya terendam banjir selama terjadi hujan lokal dan tingginya muka air selama musim hujan.
4. Efek dari Backwater pada daerah-d Penyempitan dan Elevasi Hilir Sungai yang Lebih Tinggi
Penyempitan pada sungai bisa disebabkan oleh tertutupnya muara sungai pada awal musim hujan dan arena penyempitan pada jembatan dan bangunan-bangunan struktur lainnya. Penyempitan ini bisa menyebabkan banjir di hulu karena dampak dari backwater. Backwater juga bisa terjadi pada pertemuan antara anak sungai dan sungai utamanya. Naiknya muka air dapat menyebabkan meluapnya aliaran sungai dan menggenangi lahan pertanian disekitarnya. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa akibat dari backwater dapat memperpanjang besarnya jarak penyempitan di hulu. Misalkan, penutupan muara sungai dapat memperpanjang aliran di beberapa anak sungai di daerah dataran banjir.

5. Kurang Berfungsinya Pintu Pengendali Banjir pada Sungai
Pintu air sangat sering tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya karena tertutup oleh tanaman atau endapan pasir. Masalah ini lebih sering terjadi pada pintu air otomatis, karena operasionalnya secara otomatis maka pengamatan/pemeliharaan di lapangan jarang dilakukan.

4
1.3. Pembatasan Masalah
Dengan sistem teknologi yang berkembang untuk mencegah timbulnya banjir maka sedikit demi sedikit masalah banjir dapat terselesaikan dengan baik. Maka dari pihak penulis timbul beberapa asumsi yang menjadikan batasan permasalahan. Adapun batasan masalah adalah sebagai berikut :
1. Kurang Berfungsinya Pintu Pengendali Banjir pada Sungai
2. Sistem perkiraan banjir yang memonitori waktu dan besarnya debit banjir yang akan terjadi
3. Sistem peringatan tanda bahaya banjir yang mampu menyampaikan informasi perkiraan banjir yang akan terjadi ke masyarakat yang akan terkena dampak banjir tersebut
4. Adanya sedimentasi/pendangkalan sungai
5. Mobilisasi Sumber Daya Menghadapi Banjir

1.4. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1. Melakukan survey ke pintu air
2. Desain pintu air
3. Perhitungan ketinngian dan debet air
4. Pemilihan motor/valve dan sensor yang akan dipakai
5. Kemiringan sungai yang relative datar

5
1.5 TUJUAN PEMBAHASAN
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Tujuan umum:Agar masyarakat yang bertempat tinggal di daerah rawan banjir dapat mengantisipasi terjadinya banjir. Tujuan khusus :
• Memberitahu kepada masyarakat tentang faktor penyebab banjir.
• Memberitahu kepada masyarakat tentang dampak dari banjir.
• Memberitahu kepada masyarakat tentang cara penanggulangannya.
1.6. Manfaat / Keinginan Penulisan
Untuk mengetahui penyebab banjir disekitar pulau Jawa, sehingga masyarakat dapat mencegah dan menanggulangi bahaya banjir. Oleh karena itu masyarakat harus benar – benar menjaga kelestarian lingkungan disekitarnya.Karena di tahun ini curah hujan sangat tinggi dan dapat mengetahui dampak dari banjir tersebut.

BAB 2
PEMBAHASAN DARI MAKALAH BANJIR

Pulau Jawa makin merana. Penduduknya makin susah. Fenomena itu terlihat ketika sebagian Pulau Jawa, khususnya Jateng dan Jatim dilanda banjir dan longsor. Pusat Kerajaan Jawa-Solo dan sekitarnya-yang dulu nyaris tak pernah dilanda banjir, tenggelam.
Di Jawa Barat, banjir juga menggenangi berbagai daerah yang dilalui Sungai Ciliwung, Cimanuk dan Citarum. Bahkan sungai-sungai kecil pun, ikut andil menggenangi berbagai daerah di Jawa Barat. Jakarta, Tangerang, dan Pandeglang misalnya, mulai tergenang banjir. Padahal, hujan di Jakarta dan sekitarnya, puncaknya baru Februari mendatang. Kita semua tahu, banjir yang melanda Pulau Jawa penyebab utamanya adalah hancurnya hutan dan hilangnya daerah resapan.
Terdapat dua indikator banjir yaitu (1) tinggi muka air dan (2) curah hujan. Indikator ini diamati secara terus-menerus dan beroperasi penuh di musim penghujan. Pada saat musim kemarau, indikator beroperasi minimal sebagai pengumpul data. Pencatatan data yang terjadwal akan memberikan sumbangan data yang berkualitas. Selain faktor curah hujan “sesaat”, bencana banjir tampaknya juga terkait dengan perubahan pola curah hujan. Berdasar analisis beberapa pola curah hujan di Jawa, tampak ada kecenderungan dalam satu dekade terakhir telah terjadi perubahan pola curah hujan. Periode musim kemarau berlangsung menjadi lebih lama, sementara periode musim hujan berlangsung menjadi lebih singkat. Selama periode musim hujan yang singkat ini, curah hujan cenderung dengan intensitas tinggi.Oleh karena itu curah hujan yang tinggi menyebabkan sungai yang berada dalam ketinggian yang cukup besar.Sebagian masyarakat yang tidak memperdulikan keadaan lingkungan sekitarnya seperti membuang sampah di sunagai yang menyebabkan air tidak mengalir dengan lancar.

6

7
Menghadapi masalah banjir, setidaknya kita memiliki tiga pilihan, yaitu: jangan mendiami daerah aliran banjir, beradaptasi dengan membuat rumah panggung berkaki tinggi, atau membuat pengendali banjir berupa tanggul, kanal, atau mengalihkan aliran air. Banjir akibat kesalahan manusia setidaknya disebabkan oleh dua hal; pengelolaan daerah hulu sungai yang buruk, dan pengelolaan drainase yang buruk. Dalam siklus hidrologi, daerah hulu sebenarnya adalah daerah resapan air. Pengelolaan daerah hulu yang buruk menyebabkan air banyak mengalir sebagai air permukaan yang dapat menyebabkan banjir. Pengelolaan drainase yang buruh terjadi berkaitan dengan pengembangan daerah pemukiman atau aktivitas lainnya. Akibat buruknya drainase, air permukaan tidak dapat mengalir dengan baik sehingga menggenang menjadi banjir.
Selain itu, kita juga harus memahami karakteristik banjir. Ada banjir tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 25 tahunan, 50 tahunan dan seterusnya. Pengenalan karakter ulangan itu hanya dapat dilakukan dengan pengamatan yang panjang dan studi yang luas.
Sistem pengendalian bahaya banjir umumnya sudah dilakukan untuk sungai di Jawa, dimana banjir tersebut dapat menyebabkan dampak ekonomi dan sosial yang cukup berarti. Daerah sungai yang biasanya terkena banjir secara langsung seperti permukiman, pusat-pusat industri, lahan pertanian, atau jalan-jalan utama akan sangat membutuhkan adanya sistem pengendalian bahaya banjir.
Banyak faktor yang bisa menjadi penyebab banjir, misalnya, curah hujan yang tinggi, kapasitas alur sungai yang tidak mencukupi, adanya endapan sedimen
(delta) di muara sungai, atau karena daerah banjir yang memang merupakan
daerah dataran rendah, dan lain lain. Untuk mengatasi permasalahan banjir yang
sesungguhnya perlu diketahui secara pasti faktor-faktor yang menjadi penyebab
terjadinya banjir. Dengan demikian, upaya pengendalian banjir pada suatu
wilayah bisa berbeda dengan wilayah yang lain.Banjir yang terjadi adalah sebagai akibat dari fenomena alam, bisa juga sebagai akibat akibat dari kelalaian manusia manusia yang tidak dapat mengantisipasi fenomena tersebut, sehingga hal ini dapat menelan korban jiwa manusia maupun mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur lainnya.

BAB 3
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkam dapat mengetahui penyebab masalah banjir di pulau Jawa dan cara mengatasi penyebab tersebut. Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :
1. Jumlah genangan yang terbanyak di dua wilayah Jakarta Timur adalah di Kecamatan Pancoran
2. Penyempitan saluran, pembelokan tajam dan pendangkalan saluran/kali merupakan permasalahan utama terjadinya genangan
3. Peil banjir antara saluran, penghubung dan kali memiliki elevasi yang kecil yang menyebabkan aliran menuju ke kali menjadi kurang lancer
4. Naiknya muka air Sungai Ciliwung, menyebabkan terjadi aliran balik

3.2. Saran
Saran maupun usulan yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Uuntuk mencegah munculnya genangan perlu dilakukan pengurasan atau pengerukan saluran secara rutin, penurapan dinding kali/saluran, pelebaran dimensi saluran dan perbaikan system saluran
2. Kesadaran masyarakat akan bahaya banjir perlu ditingkatakan dengan mensosialisasikan pentingnya normalisasi saluran/kali
3. Perlu ketegasan pemerintah daerah dalam membenahi pemukiman penduduk di sepanjang bantaran kali
4. Dibutuhkan suatu tindakan atau usaha yang besar dalam menangani masalah genangan atau banjir, misalnya membangun kanal- kanal banjir

8

DAFTAR PUSTAKA

Internet,Daryono, SSi, MSi, mahasiswa Program Doktor Ilmu Geografi UGM dan peneliti di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG),google
Sumber : Kompas Cetak, Google
Koran Kompas tanggal 19 Januari 2010
Suara Warga, Wahyu Budi Setiawan 25 februari 2008

9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s